Minggu, 15 Mei 2011

ASPEK PSIKOLOGI PADA KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS
Aspek psikologik dalam obstetri
Sekarang disadari bahwa penyakit dan komplikasi obstetrik tidak semata-mata disebabkan oleh gangguan organik. Beberapa diantaranya ditimbulkan atau diperberat oleh gangguan psikologik. Latar belakang timbulnya penyakit dan komplikasi dapat dijumpai dalam berbagai tingkat ketidak matangan dalam perkembangan emosional dan psikoseksual dalam rangka kesanggupan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan situasi tertentu yang sedang dihadapi ; dalam hal ini khususnya kehamilan, persalinan, dan keibuan.
Karena rasa nyeri dalam persalinan sejak zaman dahulu sudah menjadi pokok pembicaraan di antara para wanita, maka banyak calon ibu menghadapi kehamilan dan kelahiran anaknya dengan perasaan takut dan cemas. Tidaklah mudah untuk menghilangkan perasaan takut yang sudah berakar dalam itu, akan tetapi dokter dapat berbuat banyak dengan membantu para wanita yang dihinggapi perasaan takut dan cemas itu. Sejak pemeriksaan kehamilan yang pertama kali dokter harus dengan kesabarannya meyakinkan calon bu bahwa peristiwa kehamilan dan persalinan merupakan hal yang normal dan wajar. Dia tidak hanya harus menimbulkan kepercayaan, akan tetapi harus pula menimbulkan anggapan atau perasaan pada wanita bersangkutan bahwa ia seorang kawan yang ahli dalam bidangnya dan yang sungguh-sungguh berkeinginan untuk mengurangi rasa nyerinya serta menyelamatkan ibu dan anak.
Dalam masa 20 tahun terakhir perhatian lebih banyak dicurahkan kepada aspek emosional, yang sama pentingnya dengan aspek jasmaniah. Tidak perlu diragukan lagi bahwa sikap seorang wanita terhadap kehamilan dan persalinannya mempengaruhi kelancaran persalinan. Hal itu kira-kira 30 tahun yang lalu telah ditemukan oleh Read, yang mencoba menjawab dua pertanyaan berikut :
1. “Apakah suatu persalinan lancar karena si wanita tenang, ataukan ia tenang karena persalinan lancar?”.
2. “Apakah seorang wanita menderita nyeri dan ketakutan karena persalinannya sukar, ataukah persalinannya sukar dan nyeri karena ketakutan?”.
Akhirnya Read mengambil kesimpulan bahwa ketakutan merupakan faktor utama yang menyebabkan rasa nyeri dalam persalinan yang seyogyanya normal tanpa rasa nyeri yang berarti. Ketakutan mempunyai pengaruh tidak baik pula bagi his dan bagi lancarnya pembukaan.
Berdasarkan gagasan tersebut di atas lahirlah apa yang disebut natural childbirth atau physikological childbirth, yang kemudian diubah menjadi childbirth without fear. Aliran ini dipelopori oleh Read sendiri. Kemudian usaha yang hampir sama dengan psikoprofilaksis datang dari Prancis (Lamaze, 1954) dan dari Rusia (Pavlov, 1955). Tujuan usaha ini ialah untuk – dalam masa hamil – mendidik wanita menghilangkan perasaan takut. Selain persalinan mental dengan penjelasan-penjelasan teratur dan sederhana tentang proses reproduksi, kepada wanita diajarkan dan diberikan latihan-latihan untuk lebih dapat menguasai otot-otot, istirahat, dan pernafasan.
Kepercayaan wanita pada dokter dan bidan yang mendampinginya selama persalinan merupakan faktor yang sangat penting bagi kelancaran persalinan dan bagi mengurangi komplikasi. Penggunaan analgetikum dan anastetikum tidak dilarang apabila memang ada indikasi. Menurut Speck kehadiran sang dokter sering lebih berharga daripada analgetikum.
Selanjutnya perlu diperhatikan bahwa semangat wanita melahirkan dapat patah akibat percakapan dan kata-kata dokter, bidan, mahasiswa, dan perawat yang kurang hati-hati. Komentar mengenai suatu kasus dan gelak-ketawa, baik di dalam maupun di luar kamar bersalin, sering di dengar oleh wanita bersangkutan dan sering ditanggapi sebagai tertuju kepadanya. Karena itu, baik staf medis maupun paramedis, hendaknya selalu mengingat apa yang diucapkan oleh Oliver Wendel Holmes :
“The women about to become a mother, or with her newborn infant upon her bosom, should be the object of trembling care and sympathy wherever she bears her tender burden or stretches her aching limbs ... God forbid that any member of the profession to which she trusts her life, doubly precious at that eventful period, should hazard it negligently, unadvisedly, or selffishly!”.
Perempuan dewasa pada saat memasuki masa pubertas akan mengalami perubahan-perubahan fisik dan psikik yng dapat berkembang baik secara fisiologik maupun patologik. Pada saat hamil perubahan-perubahan ini juga dirasakan sebagai beban sesuai dengan pertumbuhan kehamilan dan puncaknya akan terjadi pada saat persalinan. Persalinan yang terjadi baik secara fisiologis maupun patologis akan merupakan trauma psikik sebagai trauma persalinan. Pada masa setelah bersalin (masa nifas) perempuan tersebut juga akan memasuki era baru sebagai ibu, dimana ibu seolah-olah mempunyai kontak kehidupan baru dalam hubungan ibu dan anak / bayi.
Perubahan psikologik pada perempuan dewasa dapat digolongkan dalam empat kelompok : sesuai dengan urutan perubahan fungsi kodrati sebagai perempuan yang berbentuk :
• Persiapan menanti kehamilan
• Perubahan psikologik selama kehamilan
• Perubahan psikologik di waktu persalinan
• Perubahan psikologik selama nifas
Pada masa persiapan kehamilan perempua dapat dihantui oleh beberapa hal, misalnya khawatir untuk bisa atau tidak bisa hamil, apakah keadaan indung telur dan produksi ovum / ovulasi baik atau tidak, dan apakah keadaan spermatozoa suami cukup baik sehingga dapat membuahi ovum yang diproduksi perempuan.
Pada masa kehamilan perempuan dapat dihantui beberapa pertanyaan yang dapat menimbulkan perubahan psikologik perempuan antara lain pertumbuhan janinku baik-baik, terjadi cacat bawaan atau tidak, bila minum obat tertentu apakah boleh atau tidak berhubungan seksual dengan suami dan sebagainya.
Pada masa persalinan beberapa pertanyaan yang timbul antara lain bisa bersalin normal atau tidak, apakah harus persalinan sesar, harus digunting / dilebarkan jalan lahirnya, apakah mampu mengejan, setelah bayi lahir plasentanya dapat lahir atau tidak, bila jalan lahir robek harus dijahit rasanya sakit hebat dan sebagainya.
Pada masa nifas beberapa hal yang sering menjadi pertanyaan pada erempuan antara lain berapa lama harus berbaring, kapan boleh jalan, kapan jahitan dilepas, bagaimana menyusui bayi dengan baik, apakah tidak timbul problema menyusui, kapan boleh berhubungan seksual dengan suami lagi, cara KB apa yang dipilih, apakah tidak sakit waktu dipasang, dan berhasilkah mengatur kehamilan yang akan datang.
Dengan melihat hal tersebut di atas, maka perempuan dewasa harus dipersiapkan psikiknya agar dapat menghadapi kehamilan, persalinan, dan masa nifas dengan baik.
Prokreasi atau mempunyai anak merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh sebagian besar perempuan. Motivasi untuk hamil sangat bervariasi dan kompleks dan hanya sebagian perempuan yang menyadari hal ini. Keinginan untuk hamil tidak selalu sama dengan keinginan untuk mempunyai anak. Sebagai contoh suatu kehamilan dapat sebagai cara untuk membuktikan kemampuan reproduksi dari seseorang. Keinginan untuk hamil mungkin juga merupakan respons dari perasaan kesendirian, sebagai cara untuk menjaga hubungan dengan pasangan, atau merupakan respons atas desakan keluarga atau budaya untuk mempunyai anak. Pada beberapa budaya, anak merupakan penerus orang tua.


Kehamilan Trimester I
Pada bebrapa wanita reaksi psikologik dan emosional pertama terhadap kehamilan dan segala akibatnya berupa kecemasan, kegusaran, ketakutan, dan perasaan panik. Dalam alam pikiran kehamilan merupakan ancaman, gawat, menakutkan, dan membehayakan bagi diri mereka. Mereka tidak hanya menolak kehamilannya, akan tetapi berusaha pula untuk menggugurkannya, bahkan kadang-kadang mencoba buuh diri.
Kehamilan Trimester II
Dalam kehamilan trimester II identifikasi kehamilan sebagai konsep abstrak berubah menjadi identifikasi nyata, dengan perut menjadi lebih besar, ibu merasakan gerakan janin, dan dokter atau bidan mendengar jantung janin. Dalam masa ini terbanyak wanita sudah dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan.
Kehamilan Trimester III
Setelah calon ibu sudah dapat menyesuaikan diri, maka kehidupan psikologik emosional dikuasai oleh perasaan dan pikiran mengenai persalinan yang akan datang dan tanggung jawab sebagai ibu yang akan mengurus anaknya. Berbagai penjelmaan dapat terjadi.
• Di antara para wanita yang menunjukkan sikap masa bodoh atau penolakan terhadap kehamilan muda sekarang banyak yang menunjukkan sikap positif atau sedikitnya sikap lebih menerima kehamilan.
• Para wanita dari golongan sosio ekonomi renda, yang jarang datang untuk pemeriksaan kehamilan, mulai menjunjung klinik-klinik serta mendaftarkan diri untuk persalinan di rumah sakit atau rumah bersalin.
• Persiapan-persiapan dibuat di rumah untuk perawatan si bayi sepulangnya dari rumah sakit.
Perlu mendapat perhatian, bahwa dua golongan wanit adalam masa ini diliputi oleh perasaan takut, yakni :
• Wanita yang mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan dalam kehamilan-kehamilan atau persalinan-persalinan sebelumnya dan primigravida yang pernah mendengar tentang pengalaman-pengalaman yang menakutkan dan mengerikan dari wanita-wanita lain.
• Multipara yang sudah lanjut umurnya dan mengalami kehamilan dan persalinan yang normal dan lancar. Kecemasan dan kekhawatiran yang timbul pada wanita ini tidak terhadap dirinya sendiri, melainkan terhadap janin yang sedang dikandung dan terhadap anak-anak lainnya. Siapa yang akan mengurus mereka apabila terjadi apa-apa dengan dirinya waktu melahirkan.
Dua golongan wanita terakhir memerlukan pengertian dari dokter dan keluarganya. Rasa simpati, pendekatan psikologik yang tepat, dan kepercayaan wanita bahwa dokter dan stafnya akan melakukan segala sesuatu untuk meringankan penderitanya dan untuk menyelamatkan ibu dan bayi, banyak menolong si ibu.
Kehamilan sebagai transisi perkembangan
Kehamilan, sama halnya dengan menarche dan menopause, adalah tahap utama perkembangan kehidupan seorang perempuan. Kehamilan dapat membawa kegembiraan dan sebaliknya merupakan peristiwa yang penuh denga tekanan dan tantangan, khususnya pada kehamilan yang pertama. Banyak konflik ang akan timul seperti adanya tanggung jawab sebagai ibu, kebutuhan akan karier, atau tugas sebagai isteri dan ibu. Respons perempuan terhadap kehamilannya berhubungan dengan 5 variabel berikut :
• Riwayat kehidupan keluarga
• Kepribadian
• Situasi kehidupan saat itu
• Pengalaman kehamilan sebelumnya
• Keadaan dan pengalaman kehamlina sekarang
Perkembangan psikologik selama kehamilan bervariasi menurut tahap kehamilan. Saat trimester pertama hal utama yang terjadi adalah usaha untuk menggabungkan janin, yang merupakan kesatuan dari dirinya dan pasangan. Pada trimester kedua, dengan mengenali gerakan janin, ibu akan menyadari bahwa janin adalah individu yang berdiri sendiri, yang mempunyai kebutuhan sendiri yang sementara tinggal di dalam tubuhnya. Pada trimester ketiga perempuan tersebut akan mendapati dirinya sebagai calon ibu dan mulai menyiapkan dirinya untuk hidup bersama bayinya dan membangun hubungan dengan bayinya. Di saat persalinan terjadilah perjuangan fisik dan psikik untuk melahirkan bayinya dengan segala kemampuan yang ada pada dirinya. Semua perjuangan ini akan dirasakan puas dan tidak menjadi beban lagi bila telah melahirkan bayinya dengan hasil baik. Pada masa nifas / pascapersalinan perempuan menerima kenyataan bahwa dirinya telah menjadi seorang ibu dan harus selalu menjaga hubungan yang baik dengan bayinya.
Perubahan psikik yang terjadi selama kehamilan sangat menentukan. Hal ini dapat mengubah perilaku saat dan sesudah melahirkan. O’Hara dan kawan-kawan menyatakan bahwa ibu hamil dengan latar belakang kelainan psikologik akan memerlukan perhatian khusus untuk meringankan beban psikologik yang dideritanya. Kendel dan kawan-kawan mendapatkan 10 dari 15 ibu nifas mengalami problem psikik. Kemungkinan terjadinya kelainan psikik pada masa nifas 30 kali lebih besar jika di bandingkan setelah 2 tahun terjadinya persalinan. Menurut Burger dan kawan-kawan ibu hamil yang mengalami 2 kali penyulit selama hamil dan persalinan akan jatuh dalam keadaan depresi.
Saat persalinan merupakan saat yang unik bagi setiap perempuan. Adanya ketakutan dan suasana yang tidak bersahabat akan meningkatkan ketegangan dan rasa nyeri. Ketakutan ini dapat dikurangi dengan memberi edukasi tentang persalinan, teknik relaksasi, pengetahuan tentang berbagai prosedur obstetrik, fasilitas rumah sakit dan kamar bersalin yang familier, serta disiapkan untuk membantu menjalani persalinan dengan baik, nyaman, dan berhasil guna. Peran dokter, bidan, dan perawat yang ada sangat berpengaruh dalam meningkatkan rasa percaya diri ibu yang akan melahirkan.
Menjadi ibu adalah suatu “keahlian” yang dapat dan harus dipelajari. Hubungan antara ibu dan bayi sudah terjadi jauh sebelum persalinan. Istilah “bounding” diartikan sebagai periode sensitif pasca melahirkan di mana terjadi interaksi antara ibu dan bayi yang akan menyatukan mereka. Kontak visual ataupun fisik yang lebih awal antara ibu dan bayi akan mempercepat hubungan diantara keduanya. Adanya pemisahan antara ibu dan bayi akan mempercepat hubungan di antara keduanya. Adanya pemisahan antara ibu dan bayi akan menimbulkan konsekuensi fisik, biologi, dan emosional. Rawat gabung sangat penting bagi perempuan dan bayi yang mempunyai masalah tertentu seperti usia ibu yang terlalu muda, pernah menderita kekerasan saat anak-anak, atau mempunyai problema psikiatrik.
Kelainan jiwa dalam kehamilan
Telah diuraikan di atas bahwa wanita hamil mengalami perubahan jiwa dalam kehamilan, yang biasanya tidak seberapa berat dan kemudian hilang dengan sendirinya. Ada kalanya diperlukan perhatian khusus atau pengobatan.
Kadang-kadang terjadi penyakit jiwa (psikosis) dalam kehamilan. Ini tidak mengherankan karena ovulasi dan haid juga dapat mengakibatkan psikosis. Penderita sebelum dan setelah anaknya lahir akan tetapi dalam kehamilan-kehamilan berikutnya biasanya penyakitnya timbul lagi. Eklampsia dan infeksi dapat pula disertai atau disusul oleh psikosis. Selain itu psikosis dapat menjadi berat dalam kehamilan.
Hiperemesis Gravidarum
Komplikasi kehamilan yang paling sering disertai dengan gangguan psikis ialah hiperemesis gravidarum. Selain kelainan organik (hiperasiditas lambung, kadar korion gonadotrophin serum tinggi), faktor-faktor psikis sering pula menjadi dasar penyakit ini, misalnya ketidak matangan psikoseksual, pertentangan dengan suami atau ibu mertua, kesulitan sosio-ekonomi atau perumahan, ketakutan akan persalinan dan lain-lain. Gardiner berpendapat bahwa muntah-muntah yang berlebihan merupakan komponen reaksi psikologi terhadap situasi tertentu dengan kehidupan wanita. Tanpa itu biasanya wanita hamil muda hanya menderita rasa mual dan muntah sedikit-sedikit (emesis gravidarum).
Pendekatan psikologi sangat penting dalam pengobatan hiperemesis gravidarum, bantuan moral dengan meyakinkan wanita bahwa gejala-gejala itu wajar dalam kehamilan muda dan akan hilang dengan sendirinya menjelang kehamilan 4 bulan sangat penting artinya.
Kasus-kasus yang berat perlu dirawat dan di temaptkan dalam kamar isolasi. Dengan demikian wanita yang bersangkutan di bebaskan dari lingkungan keluarganya yang mungkin menjadi sumber kecemasan baginya. Memang suatu kenyataan bahwa gejala-gejala sering berkurang bahkan kadang-kadang penderita sudah tidak muntah lagi sebelum terapi di mulai atau sebelum pengaruh terapi di harapkan.
Abortus
Abortus habitualis dapat disebabkan oleh faktor-faktor psikologi, seperti pertentangan emosional yang telah ada atau sebelum atau yang timbul dalam kehamilan. Pemikiran atau ketakutan akan beban-beban dan tanggung jawab dalam hubungannya dalam kehamilannya ; dan atau perasaan tidak sanggup dalam menghadapi tugas sebagai istri dan ibu menimbulkan pertentangan emosional yang hebat pada seorang wanita usia muda. Mungkin pula abortus habitualis dipengaruhi oleh kecemasan akibat kurangnya perhatian dan pengertian dari pihak suami dan kurangnya bantuan moral dari pihak keluarga, kawan-kawan dan dokter.
Dokter yang bijaksana dapat memberi sokongan moral yang diperlukan dan mengembalikan kepercayaan pada penderita, hal yang merupakan usaha pengobatan yang sangat penting dan menentukan. Usaha ini di anggap memberi hasil yang sedikitnya sama baiknya dengan pengobatan medis lengkap.
Abortus buatan dalam beberapa kasus di anggap perlu atas pertimbangan psikologi atau psikiatrik. Para wanita yang menunjukkan reaksi negatif (cemas, takut, panik) terhadap kehamilan dan menolaknya, mencari pertolongan untuk menggugurkan kandungannya, terutama mereka yang tidak kawin atau mereka yang putus asa dan berusaha bunuh diri. Dalam hal demikian dokter spesialis penyakit jiwa dapat memutuskan agar dilakukan abortus buatan atas pertimbangan psikiatrik. Di Indonesia sebaiknya keputusan diambil bersama-sama dengan dua dokter lain, termasuk dokter kandungan dan seorang dari golongan agama. Tentunya keputusan harus pula disetujui oleh suami atau keluarga terdekat.
Sebaliknya peritiwa abirtus buatan dapat mengakibatkan gangguan psikologi. Memang umumnya banyak wanita tidak mengalami apapun setelah dilakukan abortus, bahkan sebagian di antaranya merasa lega dan senang setelah hasil konsepsi dikelurkan. Akan tetapi, sebagian lain (10% menurut Jeff Coate), diliputi oleh perasaan bersalah atau berdosa dan menyesal. Naluri keibuan begitu kuatnya pada sebagian wanita ini, sehingga perasaan dosa dan penyesalan akan berbekas dalam pikiran mereka seumur hidupnya dan dapat menyebabkan sterilitas dan reaksi neurotik. Apabila indikasi bagi abortus itu kurang kuat atau semata-mata atas pertimbangan sosio-ekonomi, maka frekwensi gangguan psikologi atau neurotik meningkat sampai 20 -50 %.
Preeklampsia dan Eklampsia
Berbagai penyelidikan akhir-akhir ini menunjukkan kemungkinan bahwa preeklampsia dan eklampsia mempunyai latar belakang psikosomatis. Secara psikologi penyakitnya menunjukkan diri dalam sikap yang kurang wajar, perasaan bersalah atau berdosa atau cemas terhadap kehamilannya, dan kadang-kadang walaupun jarang ada kecenderungan untuk bunuh diri. Semua itu mengakibatkan ketidak seimbangan emosional yang di anggap sebagai sebab dari spasmus arterioler, yang merupakan ciri khas preeklampsia.
Dalam pengobatan preeklampsia, selain obat-obat konfesional yang sejak lama sudah di kenal, di anjurkan pula psychoprophylactic preparation oleh Chiladze dan Peracze dan psikoterapi oleh Cardenas-Escovar.
Gangguan psikiatrik dalam kehamilan dan nifas
Kehamilan dan nifas adalah periode penuh stress secara emosional, yang dimanifestasikan dengan adanya emosi yang labil dan mudah tersinggung. Ini merupakan dasar terjaninya kelainan psikologik pada saat masa kehamilan atau masa nifas. Pada saat perawatan antenatal perlu dicari faktor-faktor yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya gangguan psikologik yang meliputi :
• Riwayat pasien dan keluarga dengan gangguan psikiatri
 Gaya kehidupan yang menyendiri
 Riwayat pelecehan seksual, fisik / emosional, dan drug abuse
• Problem psikologik yang pernah di alami antara lain :
 Riwayat berpisah dengan ibunya terlalu awal, kesulitan berpisah dengan orang tua
 Masalah dengan keluarga di saat perkawinan
 Kematian anggota keluarga atau teman dekat pada saat kehamilan / persalinan
 Konflik tentang pengasuhan anak
• Riwayat reproduksi kurang baik
 Riwayat kesulitan dengan kehamilan, persalinan, atau depresi pascapersalinan
 Riwayat kematian janin intrauterin atau kematian segera setelah lahir
 Riwayat kelainan kongenital
 Riwayat infertilitas
 Riwayat abortus berulang
 Riwayat pseudosiesis atau hiperemesis
Keadaan tersebut di atas harus dipelajari dengan baik dan ibu hamil disiapkan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya agar siap menjalani proses kehamilan, persalinan, dan nifas sebagai kodrati seorang perempuan yang dipercaya oleh Tuhan untuk menjadi ibu dan dapat memberi keturunan bersama pasangan hidupnya.
Depresi pada kehamilan dan nifas
Istilah depresi adalah istilah yang menyangkut mood, gejala, atau sindroma. Mood atau feeling blue adalah perasaan seseorang yang berkaitan dengan perasaan sedih dan frustasi. Beberapa perempuan mengalami hal ini dalam berbagai derajat beberapa minggu setelah persalinan. Gejala dapat merupakan bagian dari gangguan fisik atau psikologik seperti alkoholisme, skizoprenia atau penyakit yang disebabkan oleh virus.
Sindroma adalah sekumpulan gejala yang berhubungan dengan perubahan mood. Ada dua tipe reaksi depresi.
• Postpartum blues, dinamakan juga postnatal blues atau baby blues adalah gangguan mood yang menyertai suatu persalinan. Biasanya terjadi pada hari ke-3 samapai ke-10 dan umumnya terjadi akibat perubahan hormonal. Hal ini umum terjadi kira-kira antara 10 – 17 % dari perempuan.ditandai dengan menangis, mudah tersinggung , cemas, menjadi pelupa, dan sedih. Hal ini tidak berhubungan dengan kesehatan ibu ataupun bayi, komplikasi obstetrik, perawatan di rumah sakit, status sosial, atau pemberian ASI atau susu formula. Gangguan ini dapat terjadi dari berbagai latar belakang budaya tetapi lebih sedikit terjadi lebih sedikit terjadi pada budaya di mana seseorang bebas mengemukakan perasaannya dan adanya dukungan dari lingkungan sekitarnya.
• Depresi, kondisi ini merupakan sindroma depresi nonpsikotik yang dapat terjadi selama kehamilan dan persalinan. Umumnya keadaan ini terjadi dalam beberapa minggu atau bulan setelah persalinan. Insidensi pascapersalinan mempunyai kecenderungan untuk rekuren pada kehamilan berikutnya. Terapinya mencakup dukungan lingkungan terhadap ibu tersebut, psikoterapi, dan obat-obat antidepresi (diberikan dengan sangat hati-hati mengingat pengaruhnya pada kehamilan dan menyusui). Jika dibutuhkan, pasien dapat dirawat di rumah sakit.
Kelainan psikologik pada kehamilan dan nifas
Psikosis pascapersalinan terjadi dalam 1 – 2 dalam 1.000 persalinan. Merupakan gangguan mental yang berat yang memerlukan perawatan yang serius karena perempuan tersebut dapat melukai dirinya ataupun bayinya. Sering pasien tersebut mempunyai riwayat gangguan mental, riwayat gangguan psikiatrik sebelumnya, mempunyai masalah dalam perkawinan ataupun keluarga, dan tidak adanya dukungan dari keluarga. Ada juga faktor genetik. Gejala timbul pada umumnya dari beberapa hari sampai 4 – 6 minggu pascapersalinan. Gejalanya dapat berupa tidak dapat tidur, mudah tersinggung, dan sebagainya di mana adanya gangguan organik sudah disingkirkan. Dikenal berbagai macam kelaianan psikiatrik pada ibu hamil antara lain sebagai berikut :
Ansietas
• Pada keadaan ini penderita akan diliputi oleh :
 Rasa takut, mudah marah, mudah tersinggung
 Keringat berlebihan, dyspenia, insomnia, dan / atau trembling
• Kejadian pada adolesen dan ibu dengan riwayat depresi akan meningkat
Personality Disorders
• Paranoid, schizoid atau schizotypical personality
• Histeretonic, narcissistic, antisocial
• Avoidant, dependent, compulsive, and aggressive personality
Perhatikan faktor genetik
Major Mood Disorders
• Maniac and depressive episode
• Depresi berat
• Perhatikan fakta dan gejala yang timbul. Perhatikan pula apakah ada faktor genetik, substance abuse, hipertiroid, atau tumor otak.
Sisofrenia
• Kejadian dapat 1 % dari ibu hamil dengan kelainan mental
• Tipe :
 Catatonik
 Disorganized
 Paranoid
 Undifferentiated
• Perhatikan faktor genetik
• Penyembuhan (recovery) setelah 5 tahun dapat mencapai 60 %
• Kemungkinan berulang pada kehamilan berikutnya cukup besar dari biasanya akan memberikan gejala lebih berat
Psikosis Postpartum
• Kejadian 1 – 4 % (Weissman dan Olfson, 1995)
• Gejala : Depressive, Maniac, Schizophrenic, atau Schizoaffective
• Perhatikan :
 Faktor genetik
 Faktor biologik : usia muda, primipara, riwayat psikiatrik illness
• 25 % kasus akan berulang pada kehamilan berikutnya
• Pengobatan : psikoterapi, antidepresan, antipsikotik, dan / atau ECT
Manajemen gangguan psikologik pada kehamilan dan persalinan
Masa antenatal
Pada masa antenatal seleksi pasien dengan riwayat gangguan psikologik harus dilakukan. Perhatikan pada pasien yang hamil dengan riwayat gangguan psikiatrik saat hamil dan persalinan / nifas sebelumnya, karena kecenderungan gangguan psikik yang lebih berat sangat tinggi. Dibutuhkan suatu komunikasi baik antara dokter dengan pasien untuk kemudian dapat memberikan saran dan psikoterapi yang memadai. Bebrapa langkah dalam mengenali, mencegah dan mengobati kelainan psikik pada saat antenatal antara lain :
• Buatlah suatu perencanaan bersama untuk mengenali kelainan psikik pada ibu hamil. Dengan menyadari adanya kelainan psikik ini, seluruh personil dapat memberikan terapi awal.
• Berikan penjelasan tentang tahap-tahap persalinan / nifas pada keluarganya.
• Dengarkan dan berilah tanggapan apabila pasien mengatakan keluhannya. Lakukan pemeriksaan secara cermat. Apabila diperlukan, periksalah perlengkapan diagnostik dengan laboratorium ataupun USG, foto rontgen, MRI dan sebagainya untuk mendapatkan keyakinan dan kemantapan langkah-langkah kehamilan dan persalinan selanjutnya.
• Ajaklah dan arahkan pasien dan keluarganya pada persiapan untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan penyulit pada saat kehamilan dan persalinan sedemikian rupa sehingga pasien atau keluarganya mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan dokter / sarana pelayanan yang ada. Informasi yang jelas dan terbuka disertai dengan komunikasi yang baik dengan suami dan keluarga ibu hamil tersebut akan merupakan dukungan yang sangat berarti.
Persalinan
Seperti telah diuraikan di atas kebebasan dari perasaan takut dapat memperlancar persalinan, baik dalam kala I dan II.
Partus lama dapat disebabkan karena faktor psikologik, yang mengakibatkan his kurang baik dan pembukaan kurang lancar. Pendekatan emosional yang salah dapat mengakibatkan inersia uteri. Kelainan ini sering dijumpai pada primipara dari pada multipara. Sering pula ketidak matangan psikoseksual, yang disertai perasaan bersalah dan berdosa sehingga kematian ibu dan bayi di khawatirkan sebagai hukuman, menjadi latar belakang partus lama.
Partus prematurus dapat disebabkan oleh tegangan psikis, tekanan kehidupan modern dan diikut sertakan para wanita dan industri. Selanjutnya dapat dibuktikan bahwa frekwensi prematuritas di antara para wanita yang bekerja di kota-kota besar makin meningkat dari tahun ke tahun. Demikian pula wanita yang tidak kawin sering melahirkan sebelum waktunya. Sehingga kehamilan di luar pernikahan dapat di anggap sebagai faktor etiologi bagi prematuritas.
Masa intrapartum
Keadaan emosional ada ibu bersalin sangat dipengaruhi oleh timbulnya rasa sakit dan rasa tidak enak selama persalinan berlangsung, apalagi bila ibu hamil tersebut baru pertama kali melahirkan dan pertama kali di rawat di rumah sakit. Untuk itu, langkah baiknya bila ibu hamil tersebut sudah mengenal dengan baik keadaan ruang bersalin / rumah sakit baik dari segi failitas pelayanannya maupun seluruh tenaga pelayanan yang ada. Usahakan agar ibu bersalin tersbut berada dalam suasana yang hangat dan familier walaupun berada di rumah sakit.
Peran perawat yang empati pada ibu bersalin sangat berarti. Keluhan dari kebutuhan-kebutuhan yang timbul agar mendapatkan tanggapan yang baik. Penjelasan tentang kemajuan persalinan harus dikerjakan secara baik sedemikian rupa agar ibu bersalin tidak jatuh pada keadaan panik.
Peran suami yang sudah memahami proses persalinan bila berada di samping ibu yang sedang bersalin sangat membantu kemantapan ibu bersalin dalam menghadapi rasa sakit dan takut yang timbul.
Masa nifas
Perawatan nifas memerlukan pengawasan serta komunikasi dua arah. Hal ini akan membantu kenyamanan ibu nifas dalam memasuki era kehidupan baru sebagai ibu yang harus merawat dan menghidupi bayinya. Perawatan secara “rooming in” merupakan pilihan untuk perawatan nifas. Saran dan arahan dari petugas kepada ibu nifas hanya dikerjakan apabila ibu tersebut mengalami kesulitan dan bertanya kepada petugas.
Pengawasan dan arahan petugas / perawat harus selalu dilakukan dengan baik termasuk memberikan pelajaran tentang perawatan bayinya dan cara laktasi yang benar.
Bila dalam pelayanan nifas semua pasien mendapat perlakuan yang sama, maka akan terjadi suatu kompetisi dari ibu-ibu tersebut untuk menjalani perawatan nifas sebaik mungkin terutama dalam perawatan bayinya. Problema-problema yang timbul selama masa nifas akan didiskusikan di antara mereka untuk kemudian ditanyakan pada petugas kesehatan apabila diperlukan. Secara tidak langsung ibu nifas akan mendapatkan rasa percaya diri di dalam perawatan dirinya ataupun bayinya sehingga pada saat pulang dari rumah sakit sudah dapat mengatasi beberapa probelm yang mungkin timbul.
Banyak penulis berpendapat bahwa banyak wanita dalam minggu pertama setelah melahirkan menunjukkan gejala-gejala psikiatrik, terutama gejala-gejala depresi dari yang ringan sampai yang berat, dan gejala-gejala neorosis traumatik.
Faktor-faktor yang dapat berperan dalam hal ini adalah :
• Ketakutan yang berlebihan pada masa hamil
• Struktur perorangan yang tidak normal sebelumnya
• Riwayat psikiatrik yang tidak normal
• Riwayat perkawinan abnormal
• Riwayat obstetrik abnormal
• Riwayat kelahiran mati atau kelahiran cacat
• Riwayat penyakit lain-lain
Biasanya penderita sembuh lagi tanpa atau dengan pengobatan : hanya kadang-kadang diperlukan terapi oleh dokter spesialis penyakit jiwa. Sering pula kelainan-kelainan psikiatrik ini berulang setelah persalinan-persalinan berikutnya.

Laktasi
Selain faktor-faktor hormonal dan gizi, untuk lancarnya produksi ASI diperlukan pula faktor psikis. Dalam hal terakhir korteks serebri mempunyai peranan dalam memacu dan menghambat hipotalamus untuk menghasilkan neurohormon. Hormon ini mempunyai pengaruh pada hipofisis dalam produksi prolaktin dan oksitosin setelah kelahiran.
Dengan demikian keinginan atau kesediaan atau penolakan atau keengganan ibu untuk menyusui bayinya dapat memperlancar atau menghambat produksi ASI. Penerangan yang baik dan bantuan moril dapat memperlancar laktasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar